Fire and Rejection: 1 Teguran rahasia kunci Pemulihan Hidup

“Pelajaran dari kisah Raja Yoyakim: Pentingnya menerima teguran dengan rendah hati untuk pertumbuhan iman, pertobatan, dan pemulihan hidup sesuai firman Tuhan.”

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” 

2 Timotius 4:2

Peringatan sering kali menjadi momen yang sulit diterima oleh banyak orang. Ketika kesalahan diungkapkan, respons kita dapat mencerminkan hati yang terbuka atau tertutup terhadap kebenaran. Dalam perjalanan kehidupan, tidak jarang kita menjumpai diri kita berhadapan dengan nasihat yang keras namun penuh kasih. Bagaimana kita merespons peringatan tersebut? Apakah kita menerimanya dengan rendah hati atau justru menolaknya dengan berbagai alasan? Alkitab memberikan banyak kisah yang menggambarkan respons manusia terhadap peringatan, termasuk dalam situasi di mana hati yang keras memilih untuk menolak kebenaran.

Dalam sebuah pertemuan di Yerusalem, Barukh membacakan gulungan kitab kepada rakyat Yehuda. Gulungan itu berisi pesan tentang akibat dari kejahatan segenap bangsa Yehuda yang akan ditimpakan kepada mereka. Sebelum kitab itu dibacakan kepada Raja, Barukh diminta untuk membacakannya terlebih dahulu di hadapan para panitera. Setelah mendengar isi kitab tersebut, para panitera meminta Barukh dan Yeremia untuk menyembunyikan diri. Mereka tahu persis sifat Raja Yoyakim dan mengantisipasi respon penolakan dari sang Raja. Benar saja, ketika gulungan itu dibacakan kepada Raja, “Setiap kali apabila Yehudi selesai membacakan tiga empat lajur, maka Raja mengoyak-ngoyaknya dengan pisau raut, lalu dilemparkan ke dalam api yang di perapian itu…” Hal ini terus dilakukan oleh Raja hingga seluruh gulungan kitab habis dibakar. 

Sebuah penolakan keras ditunjukkan oleh Raja Yoyakim. Dalam aksi itu, ada tiga orang — Elnatan, Delaya, dan Gemarya — yang menyatakan keberatan terhadap tindakan Raja. Mereka bahkan mendesak Raja untuk tidak membakar gulungan kitab itu, tetapi kesombongan Raja mengalahkan desakan mereka. Kejahatan dan penolakan seperti yang dilakukan Raja Yoyakim terus turun dari generasi ke generasi hingga saat ini. Bahkan, mereka yang mengaku setia kepada Tuhan pun tidak luput dari sikap ini. Kesombongan sering kali mendorong kita untuk “membakar” setiap peringatan dalam api hati yang sedang berkobar. Akan selalu ada dorongan untuk melawan peringatan atas dosa dan kesalahan. 

Teguran yang Dibungkam

Namun, suara teguran tidak boleh dibungkam hanya karena keberatan hati. Orang-orang yang hidup dalam dosa sering kali tidak peduli dengan akibatnya. Mereka bahkan mengabaikan orang-orang yang dengan kasih memperingatkan mereka. Hal ini mendorong banyak orang untuk merendahkan mereka yang berani menegur dosa. Namun, teguran harus tetap diberikan ketika diperlukan. Paulus memerintahkan Titus untuk menegur keras suatu kelompok agar mereka kuat dalam iman. Bagaimana seharusnya teguran diberikan? Rasul Paulus menjawab, “dengan segala kesabaran dan ajaran.” Orang yang bersalah harus diberitahu bahwa jalannya tidak sejalan dengan firman Tuhan.

teguran untuk orang yang bersalah

Kesalahan umat Allah tidak boleh diabaikan begitu saja. Mereka yang dengan setia menjalankan tugas yang sulit ini, dengan rasa tanggung jawab kepada Allah, akan menerima berkat-Nya. Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi kita umat Kristen saat ini. Kesetiaan dalam menyampaikan teguran tidak hanya membutuhkan keberanian tetapi juga hikmat dan kasih. Menegur bukan berarti menghakimi, melainkan menolong orang lain untuk kembali kepada jalan yang benar. Dalam proses ini, doa sangat penting agar teguran dapat diterima dengan baik dan menghasilkan perubahan yang positif. Teguran yang diberikan dengan kasih memiliki potensi besar untuk membangun iman dan membawa pemulihan. 

Lebih jauh lagi, kita perlu memahami bahwa menerima teguran juga adalah bagian dari kerendahan hati. Teguran dapat datang dari firman Tuhan, sesama, atau bahkan melalui pengalaman hidup yang sulit. Ketika kita menghadapi teguran, respons kita seharusnya adalah introspeksi dan refleksi diri, bukan penolakan atau pembelaan diri yang berlebihan. Dengan demikian, kita memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja dalam hidup kita. Menerima teguran dengan rendah hati menunjukkan bahwa kita menghargai kebenaran dan ingin terus bertumbuh dalam iman.

Kesimpulan 

Respons terhadap teguran mencerminkan kondisi hati seseorang. Penolakan Raja Yoyakim terhadap firman Tuhan menunjukkan kesombongan dan kekerasan hati yang membawa konsekuensi buruk. Sikap ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak mengabaikan teguran, terutama ketika diberikan dengan kasih dan sesuai firman Tuhan. Menerima teguran dengan rendah hati adalah langkah menuju pertobatan dan pemulihan. Sebaliknya, menolaknya hanya akan memperburuk keadaan. Tuhan menghargai mereka yang dengan setia menjalankan tugas menegur dosa, meski itu sulit. Dengan kesabaran dan hikmat, marilah kita terbuka terhadap nasihat yang membangun iman dan kehidupan kita.

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book.