Pelajari makna dan hubungan dua perumpamaan Alkitab tentang biji sesawi—pertumbuhan kerajaan Allah dan iman sebesar biji sesawi. Temukan kisah, tradisi Yahudi, dan pelajaran berharga tentang kuasa iman serta pertumbuhan rohani dalam kehidupan.
Tumbuhan Sesawi atau dalam bahasa Inggris disebut Mustard di zaman Yesus tumbuh subur di daerah beriklim Mediterania termasuk palestina dan biasanya ditemukan di ladang, tepi jalan atau padang terbuka. Tanaman ini unik karena walaupun memiliki biji yang amat kecil sebesar 1 – 2 milimeter namun dapat tumbuh menjadi pohon setinggi 2 – 3 meter. Terdapat dua cerita dalam Alkitab dimana tanaman sesawi disebutkan, yaitu perumpamaan mengenai Biji sesawi (Matius 13: 31-32); dan iman sebesar Biji sesawi (Matius 17: 14-21). Kita akan melihat makna dan hubungan dari kedua cerita tersebut.
Tradisi Yahudi
Biji sesawi hitam sering digunakan dalam pengobatan dan kuliner masyarakat timur tengah sehingga tanaman ini dikenal luas oleh masyarakat kala itu. Orang Yahudi mengenal biji sesawi sebagai simbol sesuatu yang kecil. Literatur rabinik pada periode itu menyebutkan biji sesawi sebagai ukuran terkecil yang digunakan dalam perumpamaan atau diskusi hukum.
Dalam Mishnah (kompilasi hukum lisan Yahudi), biji sesawi digunakan sebagai unit perbandingan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat kecil. Misalnya, dalam traktat Niddah (Mishnah Niddah 5:2), biji sesawi dijadikan referensi ukuran terkecil untuk berbagai keperluan hukum, seperti pengukuran darah atau kotoran yang membuat seseorang najis. Ungkapan seperti “sekecil biji sesawi” digunakan dalam diskusi hukum dan etika untuk menekankan hal-hal yang terlihat kecil atau tidak signifikan tetapi memiliki konsekuensi besar.
Perumpamaan mengenai Biji Sesawi
Dalam cerita ini Yesus sedang mengajar namun hanya sedikit yang mengakui-Nya sebagai Mesias. Orang Farisi juga hadir di situ namun merendahkan. “Bagaimana Ia dapat mengangkat Israel menjadi suatu kerajaan yang besar tanpa kekayaan, kekuatan dan penghormatan?” Yesus dapat membaca pikiran mereka, kemudian membentangkan suatu perumpamaan mengenai kerajaan surga katanya : ”Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” (Matius 13:31, 32).

Makna Pertumbuhan Benih Sesawi
Pertumbuhan benih sesawi dimulai dari biji yang sangat kecil ukuran 3 milimeter namun dia tumbuh hingga mencapai 3 meter. Dari 3 mm menjadi 3.000mm. Perubahannya mencapai 3.000 kali lipat dan itu baru tajuknya belum termasuk sistem perakaran yang ada di dalam tanah. Biji sesawi itu yang paling kecil dari segala jenis benih, namun setelah ia bertumbuh ia lebih besar dari sayuran lainnya bahkan menjadi pohon sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabangnya.
Begitulah yang akan terjadi dengan pekerjaan yang dilakukan oleh Kristus, memang kelihatan kecil dan tidak berarti namun akan berkembang dengan pesat sampai ke seluruh bumi hingga sekarang ini. Itulah makna perumpamaan ini dan menjadi pelajaran walaupun kita merasa pekerjaan pelayanan kita kecil dan tidak berarti namun bersama Tuhan tidak ada yang sia-sia.
Pertumbuhan Kerajaan Kristus
Lebih jauh berbicara mengenai kerajaan Kristus, hal ini merupakan hal yang baru di zaman itu dan prinsip perkembangannya bertentangan dengan dasar pemerintahan kerajaan-kerajaan di dunia ini. Pemerintahan dunia tumbuh oleh kekuatan fisik, mempertahankan pemerintahan dengan peperangan bahkan Nubuatan dalam Alkitab menggambarkan kerajaan-kerajaan dengan lambang binatang buas, tetapi pendiri kerajaan yang baru ini adalah putra damai. Kristus adalah anak domba Allah yang menghapus dosa dunia. Dalam rencana pemerintahan-Nya tidak ada perlakuan kasar dan bengis untuk memaksakan kehendak.
Pengakuan Kristus sebagai Mesias telah diejek oleh pemimpin-pemimpin dunia namun kebenaran injil yang penuh kuasa itu telah dipercayakan kepada pengikut-pengikut-Nya. injil itu mengandung kuasa kehidupan Ilahi, bertumbuh dengan cepat dan sangat luas pengaruhnya. Hanya ada beberapa petani orang galilea untuk mewakili kerajaan baru itu. Miskin, jumlahnya kecil, orang-orang tidak mau bergabung dengan mereka. Pekerjaan ini awalnya kecil namun ketika kebesaran kerajaan lain pudar, kerajaan Kristus akan menjadi kuasa yang kuat dan jauh jangkauannya.
Begitu juga dengan pekerjaan rahmat Tuhan dalam hati manusia, mula mula kecil, sepatah kata yang diucapkan, seberkas sinar di dalam jiwa, itulah permulaan dari hidup yang baru. Dan siapakah yang dapat mengukur hasilnya?
Perkembangan Pemberitaan Injil Sepanjang Sejarah
Yohanes Pembaptis, pendahulu Kristus, berdiri sendirian untuk menegur kesombongan dan formalitas bangsa Yahudi. Lihatlah pembawa Injil pertama ke Eropa, betapa tampaknya tidak berarti dan tanpa harapan misi Paulus dan Silas, dua pembuat tenda, ketika mereka bersama rekan-rekannya berlayar dari Troas menuju Filipi. “Paulus yang sudah tua,” dalam belenggu, memberitakan Kristus di benteng kekuasaan Kaisar. Lihatlah komunitas kecil dari para budak dan petani yang berjuang melawan paganisme Roma kekaisaran.
Martin Luther menghadapi gereja besar yang merupakan mahakarya kebijaksanaan dunia, dia berpegang teguh pada firman Allah melawan kaisar dan paus ia berkata, “Di sinilah saya berdiri; saya tidak bisa berbuat lain. Allah adalah penolong saya.” John Wesley memberitakan Kristus dan kebenaran-Nya di tengah-tengah formalitas, keduniawian, dan ketidakpercayaan. Lihatlah seseorang yang terbeban dengan penderitaan dunia kafir, memohon hak untuk membawa pesan kasih Kristus kepada mereka. Dengarkan tanggapan dari kaum gerejawan.
Pada generasi terakhir ini, perumpamaan tentang biji sesawi akan mencapai penggenapan yang luar biasa dan penuh kemenangan. Biji kecil itu akan menjadi pohon. Pesan terakhir peringatan dan belas kasihan akan disampaikan kepada “setiap bangsa dan suku dan bahasa” (Wahyu 14:6-14), “untuk memilih dari antara mereka suatu umat bagi nama-Nya” (Kisah Para Rasul 15:14; Wahyu 18:1). Dan bumi akan diterangi dengan kemuliaan-Nya.

Iman sebesar Biji sesawi
Apa yang dimaksud dengan iman yang sebesar biji sesawi? Apakah yang menjadi ukurang iman itu? Apakah iman itu ada yang besar dan ada yang kecil? Matius 17 dibuka dengan peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung dan setelah Ia bersama tiga murid lain turun menjumpai orang banyak, didapati bahwa murid-murid Yesus telah gagal mengusir roh jahat dari seorang anak karena kurang iman dan doa.
Kegagalan para Murid
Perkataan Yesus yang menyatakan kematian-Nya telah membawa kesedihan dan kebimbangan sementara pemilihan ketiga murid itu untuk menemani Yesus ke gunung telah membangkitkan kecemburuan sembilan murid yang lain namun bukannya mereka menguatkan iman melalui doa dan perkataan Kristus, mereka malah merenungkan perasaan tawar hati dan kesedihan pribadi.
Ketika Yesus turun, di kaki gunung itu sudah ada rombongan besar orang, murid-murid menyambut-Nya tapi mereka kelihatan susah. Ia melihat mereka berada dalam kebingungan yang besar, suatu keadaan baru saja terjadi yang membuat mereka merasa kecewa dan terhina.
Rupanya seorang ayah telah membawa anaknya laki-laki kepada mereka dengan maksud agar anaknya dapat dilepaskan dari roh jahat yang menyiksa. Kuasa untuk mengusir roh jahat telah dianugerahkan kepada murid-murid ketika mereka diutus untuk memberitakan injil di Galilea dan mereka berhasil namun sekarang dengan nama Yesus mereka perintahkan roh jahat untuk keluar namun setan hanya mengejek mereka dengan menunjukan kuasanya sehingga murid-murid tidak sanggup menjelaskan kekalahan ini dan mendatangkan cela kepada mereka dan Guru mereka.
Di situ juga terdapat ahli Taurat yang menggunakan kesempatan untuk merendahkan mereka sambil berusaha membuktikan bahwa mereka dan guru mereka adalah penipu.
Bagaimana memiliki iman seperti biji sesawi ?
Supaya berhasil dalam pergumulan seperti itu, iman mereka harus dikuatkan oleh doa yang tekun, puasa disertai kerendahan hati. Mereka harus dikosongkan dari kepentingan diri dan dipenuhi oleh Roh dan kuasa Allah. Permohonan yang sungguh dan tekun kepada Allah dalam iman, bergantung sepenuhnya serta penyerahan yang tidak bersyarat, hanya itulah yang dapat menolong membawa bantuan Roh Kudus kepada manusia dalam pertempuran melawan penguasa, penghulu dunia dan segala roh jahat di udara
“Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja” kata Yesus kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah. Biji sesawi sangat kecil namun itu mengandung prinsip kehidupan misterius yang sama yang menghasilkan pertumbuhan pada pohon yang paling tinggi.
Ketika biji sesawi ditaburkan ke dalam tanah, benih kecil itu menyerap setiap elemen yang telah disediakan Tuhan untuk pertumbuhan nutrisinya dan dengan cepat berkembang menjadi tumbuhan yang kokoh. Jika kamu memiliki iman seperti ini, kamu akan memegang teguh firman Tuhan dan semua sarana penolong yang telah ia tetapkan. Dengan demikian imanmu akan menjadi lebih kuat dan membawa kekuatan surga untuk menolongmu. Hambatan yang diletakan iblis di jalanmu, meskipun tampaknya tidak dapat diatasi seperti bukit-bukit abadi, akan lenyap di hadapan tuntutan iman. “Tidak ada yang mustahil bagimu.” – E.G. White.
Memahami dengan sederhana makna “iman sebesar biji sesawi”
Ukuran iman dalam ajaran Yesus tidak mengacu pada ukuran fisik atau kuantitatif melainkan pada ketulusan dan kepercayaan yang mendalam kepada Allah. Istilah iman yang kecil sebesar biji sesawi digunakan untuk menekankan bahwa iman yang tampak kecil dan sederhana saja, jika diletakan pada kuasa Allah dapat menghasilkan perubahan yang besar. Iman yang sedikit jika disertai dengan iman yang penuh kepada Allah, dapat mengatasi masalah besar dan menghasilkan buah yang signifikan. Iman, meskipun kecil seperti biji sesawi, jika dipraktekan dengan sungguh-sunguh dan diserrtai dengan doa yang tekun, dapat menghasilkan hasil yang luarbiasa dalam pelayanan kita.
Klik Artikel kami mengenai untuk mempelajari mengenai iman : 6 Cara untuk posting article : cara terakhir adalah cara yang paling ampuh
Kesimpulan
Matius 13:31-35 dan Matius 17:20 memang memiliki beberapa kesamaan dalam tema, meskipun tidak secara langsung terkait. Kedua bagian ini mengajarkan prinsip-prinsip iman dan kerajaan Allah, tetapi dalam konteks yang berbeda.
Matius 13:31-35 berisi perumpamaan-perumpamaan Yesus yang menggambarkan pertumbuhan kerajaan Allah. Dalam perumpamaan biji sesawi (Matius 13:31-32), Yesus menjelaskan bahwa meskipun kerajaan Allah dimulai dari sesuatu yang kecil, seperti biji sesawi, ia akan tumbuh menjadi sangat besar dan memberi manfaat bagi banyak orang. Ini mengajarkan bahwa meskipun pertumbuhan kerajaan Allah tampak kecil atau tidak signifikan pada awalnya, ia akan berkembang pesat dengan waktu.
Matius 17:20, di sisi lain, berfokus pada kuasa iman. Yesus mengajarkan bahwa iman sebesar biji sesawi saja sudah cukup untuk melakukan mujizat besar, seperti memindahkan gunung. Pada dasarnya, Yesus ingin menunjukkan bahwa bukan seberapa besar iman kita, tetapi seberapa kuat kita percaya dan bergantung pada kuasa Allah.
Hubungan antara kedua ayat tersebut:
- Iman yang kecil namun kuat:
Dalam Matius 13:31-32, biji sesawi yang kecil menggambarkan bagaimana sesuatu yang kecil (kerajaan Allah atau iman) dapat tumbuh menjadi besar dan memberi dampak luar biasa. Dalam Matius 17:20, biji sesawi juga digunakan untuk menggambarkan iman. Meskipun iman itu kecil, jika diletakkan pada kuasa Allah, hasilnya bisa sangat besar. - Pentingnya iman yang tulus:
Kedua bagian ini mengajarkan bahwa meskipun tampaknya kecil atau sederhana, baik kerajaan Allah maupun iman yang sejati memiliki potensi yang besar jika kita benar-benar percaya dan bergantung pada Allah.
Jadi, meskipun konteksnya berbeda, ada hubungan dalam kedua perikop ini mengenai potensi besar yang dapat dihasilkan dari yang kecil—baik dalam hal kerajaan Allah maupun iman yang kita miliki. Keduanya mengajarkan bahwa dengan iman yang tulus, meskipun tampaknya kecil, kita dapat mengalami perubahan besar dan kuasa Allah dalam hidup kita.
https://www.myjewishlearning.com/article/nazir-8. : Tractate Nazir, Nazir 8 : Mustard musings, By. Rabbi Heather Miller
https://m.egwwritings.org/en/book/15.279#279 : Christ’s Object Lessons, Chapter 5, By E.G.White
https://m.egwwritings.org/id/book/13809.130 : Kerinduan segala zaman bab 47, By E.G.White














Leave a Review